Trendingmanado.com – Gaya liburan wisatawan zaman sekarang sudah mulai berubah. Bosan dengan destinasi yang itu-itu saja, para pelancong kini lebih berburu pengalaman autentik yang langsung menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Membaca tren ini, Pemprov Sulut di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus langsung bergerak cepat. Pemprov kini mengalihkan radar fokusnya ke pengembangan desa wisata agar perputaran uang dari sektor pariwisata tidak hanya mandek di kota, tapi langsung mengalir ke kantong-kantong warga desa.
Saat ini, Sulut ternyata sudah mengantongi modal besar dengan kepemilikan 127 desa wisata yang tersebar di 15 kabupaten dan kota.
Strategi ‘Jemput Bola’ Bareng Agen Perjalanan
Kepala Dinas Pariwisata Sulut, Kartika Devi Tanos, menjelaskan, strategi yang mereka pakai sekarang bukan lagi sekadar menunggu turis datang, melainkan aktif mencari tahu apa yang pasar mau.
Dalam acara Ngopi Bareng JIPS di Gedung Museum Sulut, Jumat (19/6/2026), Devi membeberkan jurus ‘jemput bola’ yang sedang gencar dilakukan pihaknya.
Dinas Pariwisata aktif mengetuk pintu para agen perjalanan (travel agent) untuk memetakan minat terbaru dari turis domestik maupun mancanegara.
“Kami menjemput bola dengan travel agent untuk mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan wisatawan. Itu yang kemudian kami siapkan bersama kabupaten dan kota,” katanya.
Pastikan Desa Wisata Benar-Benar Siap, Bukan Cuma Nama
Dari 127 desa wisata yang ada di Bumi Nyiur Melambai, tingkatannya memang berbeda-beda, mulai dari kategori berkembang hingga desa wisata mandiri.
Namun, Pemprov Sulut tidak mau kecolongan dengan hanya menjual destinasi di atas kertas. Koordinasi ketat terus dilakukan dengan pemerintah daerah di 15 kabupaten/kota untuk menyaring desa mana saja yang fasilitas dan masyarakatnya sudah benar-benar siap menyambut kedatangan turis.
Dengan strategi baru ini, pariwisata Sulut tidak lagi bertumpu pada wajah-wajah lama, melainkan siap menyajikan petualangan baru berbasis masyarakat yang lebih segar, seru, dan berdampak langsung bagi ekonomi warga lokal.(***)






