Balai Taman Nasional Bunaken Lakukan Penanganan Terpadu Specimen Coelacanth Dukung Konservasi dan Penelitian

Trendingmanado.com — Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado kini resmi menjadi ‘rumah baru’ bagi salah satu spesimen laut paling langka di planet bumi.

Bangkai Ikan Raja Laut atau Coelacanth (Latimeria menadoensis) yang ditemukan mengapung di perairan Pulau Siladen, Jumat (26/6/2026), kini berada di bawah penanganan intensif tim akademisi untuk proses pengawetan jangka panjang.

 

Mengamankan Jaringan Tubuh Sang “Raja Laut”

Pasca-evakuasi cepat yang dilakukan oleh petugas Balai Taman Nasional Bunaken (TNB) dari tangan nelayan, spesimen berharga seberat ±30 kg dengan panjang 105 cm ini langsung dipindahkan ke daratan utama.

Serah terima resmi dilakukan di Kantor Balai TNB kepada Wakil Dekan II FPIK Unsrat, Ir. Reiny A. Tumbol, M.App.Sc. Menurut Kepala Balai TNM, I Ketut Catur Warbawa, spesimen langsung dilarikan ke fasilitas pengawetan khusus agar kondisi fisik, morfologi, dan jaringan tubuhnya tidak mengalami pembusukan atau kerusakan eksternal. Pengawetan ini krusial agar struktur genetik asli ikan purba ini tetap utuh saat diteliti nanti.

 

Coelacanth Dilarang Keras Untuk Diperdagangkan

Coelacanth Indonesia adalah satu dari hanya dua spesies Coelacanth yang masih tersisa di dunia. Berstatus Vulnerable (Rentan) dalam Daftar Merah IUCN dan masuk Appendix I CITES, ikan ini dilarang keras untuk diperdagangkan secara internasional.

Di dalam laboratorium FPIK Unsrat inilah, rahasia biologis ikan yang telah ada sejak ratusan juta tahun lalu ini akan dibongkar demi kepentingan ilmu pengetahuan.

Tim peneliti akan melakukan serangkaian identifikasi mendalam, meliputi Analisis Genetik & DNA dengan memetakan silsilah dan kekerabatan evolusi ikan purba. Selanjutnya Studi Morfologi untuk mempelajari struktur fisik unik dari ikan yang konon bentuknya tidak banyak berubah sejak zaman dinosaurus.

Selanjutnya, dari aspek distribusi, untuk membantu menguak pola hidup dan migrasi Coelacanth di kawasan segitiga terumbu karang dunia.

 

Komitmen Laporan Berkala dan Science-Based Conservation

Keberadaan spesimen di laboratorium kampus tidak berarti lepas dari pengawasan negara. Berdasarkan kesepahaman legal antara dunia akademik dan pemerintah, FPIK Unsrat berkomitmen untuk menyampaikan laporan perkembangan pengawetan dan hasil penelitian secara berkala kepada Balai TNB.

Kepala Balai TNB, I Ketut Cahya, menegaskan, penempatan spesimen di Unsrat merupakan wujud nyata science-based conservation (konservasi berbasis sains).

“Penanganan spesimen ini dilakukan melalui kerja sama dengan FPIK Universitas Sam Ratulangi untuk tujuan pengawetan dan penelitian. Hasil riset dari laboratorium ini nantinya akan menjadi referensi penting dalam penyusunan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi di masa mendatang,” jelasnya.

Melalui sinergi ini, laboratorium Unsrat tidak hanya sekadar mengawetkan bangkai ikan, melainkan sedang memproduksi data ilmiah vital yang akan memperkuat posisi Indonesia di tingkat global dalam upaya penyelamatan keanekaragaman hayati laut dunia.(***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *