Aksi Terpuji Nelayan Siladen Selamatkan Coelacanth Dapat Apresiasi Taman Nasional Bunaken

Trendingmanado.com — Sebuah tindakan mulia dari seorang nelayan di Pulau Siladen menjadi kunci penting bagi penyelamatan salah satu aset sains laut paling berharga di dunia. Alih-alih mengabaikan atau memanfaatkan secara pribadi, nelayan lokal ini memilih langsung melaporkan penemuan bangkai Ikan Raja Laut atau Coelacanth (Latimeria menadoensis), sebuah spesies ikan purba langka yang dijuluki dunia sebagai ‘fosil hidup’.

Apresiasi setinggi-tingginya pun mengalir dari pihak Balai Taman Nasional Bunaken (TNB). Aksi cepat warga ini dinilai menjadi bukti nyata meningkatnya kesadaran masyarakat lokal dalam menjaga kekayaan bawah laut Indonesia.

 

Langkah Soni Pontoh Selamatkan Bangkai Coelacanth

Peristiwa ini bermula pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 09.00 WITA. Soni Pontoh, seorang nelayan warga Pulau Siladen Lingkungan 7, Kelurahan Bunaken, sedang melintas di perairan Pulau Siladen. Sekitar 100 meter dari tubir terumbu karang, pandangannya tertuju pada seekor ikan raksasa yang mengapung dan melayang tak bernyawa di permukaan air.

Soni yang mengenali keunikan ikan tersebut segera mengevakuasi bangkai seberat kurang lebih 30 kg itu ke tepi pantai. Sadar akan nilai penting satwa tersebut bagi alam, pihak keluarga Soni langsung mengambil langkah tepat dengan menghubungi pihak akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

Berkat laporan kilat tersebut, petugas patroli Balai TNB bisa langsung mengamankan spesimen sepanjang 105 cm tersebut dengan prosedur yang tertib agar jaringan tubuh dan morfologinya tidak rusak.

 

Apresiasi Tinggi Balai TNB

Kepala Balai TNB, I Ketut Cahya, memberikan pujian dan rasa hormat yang mendalam atas kepedulian yang ditunjukkan oleh Soni Pontoh. Menurutnya, keberhasilan evakuasi aset ilmiah yang sangat langka ini tidak akan terjadi tanpa kerelaan dan kesadaran dari sang nelayan.

“Balai Taman Nasional Bunaken menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada nelayan yang telah menunjukkan kepedulian dengan melaporkan penemuan spesimen tersebut kepada petugas. Tindakan tersebut mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mendukung upaya konservasi sumber daya alam hayati,” ungkap I Ketut Cahya.

Ia menambahkan, apa yang dilakukan Soni merupakan contoh praktik baik (best practice) bagaimana masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi bisa bersinergi menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *