Trendingmanado.com— Nilai Tukar Petani (NTP) Sulut pada periode Oktober 2026 tercatat 136,13, naik 6,09 persen dibandingkan September 2026. Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut mencatat, peningkatan terjadi pada subsektor hortikultura yang naik 28,83 persen dan naiknya subsektor peternakan sebesar 0,74 persen, terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga tomat. Sebaliknya, subsektor perikanan, perkebunan rakyat, dan tanaman pangan mengalami penurunan.
Di sisi lain, penurunan harga ikan selar/ikan tude, ikan malalugis/ikan sorihi, ikan cakalang/ikan sisik, ikan deho, dan daging babi menjadi faktor penahan inflasi. Secara kelompok, maka kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan kenaikan sebesar 1,26 persen.
Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga meningkat 6,11 persen menjadi 148,62 menunjukkan kemampuan usaha pertanian dalam menutupi biaya produksi mengalami penguatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Sebagaimana diketahui, kenaikan harga beras serta berbagai jenis bumbu seperti tomat, cabai merah, cabai rawit, dan daun bawang, berhasil memicu terjadinya inflasi di Sulut pada Oktober 2026.
Inflasi pada Oktober 2026 mencapai 0,57 persen dibanding September 2026. Namun jika dibanding Oktober tahun 2025 (year on year/yoy), inflasi tahun ini cukup besar karena mencapai 8,07 persen, di atas inflasi nasional sebesar 3,23 persen.
Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut akibat terbatasnya pasokan yang disebabkan penurunan produksi, kondisi cuaca panas berkepanjangan, serta distribusi yang belum optimal.(***)





