Trendingmanado.com— Transformasi digital harus menjadi instrumen untuk meningkatkan efektivitas birokrasi sekaligus mempercepat pelayanan kepada masyarakat.
Ini dikatakan Sekprov Sulut Tahlis Gallang saat membuka kegiatan Koordinasi Penerapan Transformasi Digital Pemerintah, yang digelar Rabu (01/7/2026).
Dalam kegiatan hadir juga Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik Sulawesi Utara, Zainuddin Hilimi, serta Asisten Deputi Koordinasi Penerapan Transformasi Digital Pemerintah Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Muhammad Averus.
Saat menyampaikan materi, Sekprov mengajak peserta, khususnya generasi yang mengalami masa sebelum komputer dan internet, untuk mengingat bagaimana teknologi telah mengubah pola kerja pemerintahan.
Esensi transformasi digital, lanjutnya, bukan sekadar penggunaan aplikasi, melainkan memangkas proses yang tidak efektif sehingga aparatur dapat lebih fokus melayani masyarakat.
“Roh teknologi adalah memangkas waktu yang tidak efektif agar dapat digunakan untuk pelayanan publik. Esensi transformasi digital adalah efisiensi dan efektivitas,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengalaman selama pandemi Covid-19 menjadi bukti, banyak pekerjaan pemerintahan dapat dilakukan secara digital tanpa harus bergantung pada pertemuan tatap muka maupun pembangunan infrastruktur perkantoran yang berlebihan.
“Kalau pekerjaan bisa dilakukan secara digital, anggaran pembangunan gedung dapat dialihkan untuk kepentingan masyarakat. Koordinasi juga tidak selalu harus dilakukan secara langsung jika teknologi mampu menjembataninya,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Tahlis mengajak seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk memperkuat komitmen dalam mempercepat transformasi digital pemerintahan.
“Kita digaji negara untuk melayani masyarakat, bukan menghabiskan waktu pada urusan administrasi. Dengan digitalisasi, waktu kita akan lebih banyak digunakan untuk pelayanan publik. Sulawesi Utara siap menjadi bagian dari Indonesia digital,” pungkasnya.
Selanjutnya, dalam suasana santai, Sekprov memperkenalkan konsep ‘3B Sulut’ kepada para peserta dari luar daerah sebagai daya tarik daerah.
B pertama adalah Bunaken yang disebutnya sebagai destinasi wisata bawah laut kelas dunia. B kedua adalah Bubur Manado atau Tinutuan, yang menurutnya memiliki cita rasa khas karena menggunakan hasil bumi Sulut.
Sementara B ketiga yang paling menarik perhatian peserta adalah ‘Bibir Manado’. “Bukan negatif. Bibir Manado itu lembut, sopan, ramah, enak didengar. Kalau sudah kenal orang Manado, biasanya tidak mau pulang,” katanya bernada canda.
Sebagai tuan rumah atas kegiatan nasional tersebut, Sekprov menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Sulut. “Selama ini kegiatan seperti ini selalu dilaksanakan di Makassar. Tahun ini digelar di Sulawesi Utara, ujung utara Indonesia. Kami bersyukur mendapat kesempatan menjadi tuan rumah,” katanya.
Menurut Sekprov, penyelenggaraan kegiatan di daerah juga mendukung kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, karena anggaran perjalanan dinas yang dapat dihemat bisa dialihkan untuk sektor-sektor yang lebih menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti pendidikan dan kesehatan.(***)






