Trendingmanado.com— Langkah tidak biasa diambil oleh Kim Gery Tawaang (KGT). Di tengah kariernya yang mapan sebagai jurnalis kawakan di Sulawesi Utara (Sulut), pria yang akrab disapa KGT ini justru memilih pulang kampung.
Ia memantapkan diri untuk mengabdi sebagai Hukum Tua (Kumtua) di Desa Watulaney Amian, Kecamatan Lembean Timur, Kabupaten Minahasa.
Keputusannya maju dalam Pemilihan Hukum Tua (Pilhut) bukan sekadar ikut-ikutan. Setelah bertahun-tahun tajam melesatkan kritik dan mengawal kebijakan lewat pena jurnalistik, alumni Universitas Negeri Manado ini merasa sudah saatnya berkontribusi langsung mengeksekusi pembangunan di tanah kelahirannya.
Totalitas KGT untuk desanya pun bukan isapan jempol. Demi menghadirkan pelayanan publik yang prima, ia bahkan menyatakan siap berkorban secara materil demi fasilitas warga.
“Saya ingin mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih. Saya juga akan meningkatkan pelayanan publik, termasuk menghadirkan kantor desa yang layak. Saya siap menghibahkan lahan untuk itu,” tegas KGT dengan nada penuh komitmen.

Modal Rekam Jejak dan Jaringan Luas
Kepulangan KGT ke Watulaney Amian membawa gerbong pengalaman yang tidak main-main. Memulai karier jurnalistik sejak 2012 di harian Manado Post (Jawa Pos Group), ia bertahun-tahun mengasah ketajaman analisisnya terhadap isu strategis daerah.
Ketangkasannya di lapangan kemudian membawa KGT merambah media nasional, bergabung dengan MNC Group melalui Koran SINDO Manado milik Hary Tanoesoedibjo pada 2014.
Selama berkiprah di dunia pers, KGT bukanlah jurnalis kemarin sore. Ia adalah sosok yang akrab dengan koridor kekuasaan dan hukum di Sulut. Kim, sapaan akrabnya, memiliki pengalaman meliput di Pemkot Manado, Polda Sulut, Pemprov Sulut, hingga gedung DPRD Manado dan DPRD Sulut.
Pengalaman panjang berhadapan dengan para politisi, aparat penegak hukum, hingga pakar ekonomi inilah yang menjadi modal premium bagi KGT. Ia optimistis, jejaring (networking) luas yang dimilikinya di tingkat provinsi dan nasional akan mempermudah dirinya membawa program-program besar masuk ke desa.
Tidak hanya di belakang meja redaksi, sosok KGT juga dikenal supel dan dekat dengan komunitas. Ia bahkan tercatat pernah mewakili jurnalis Sulut dalam ajang futsal tingkat nasional, membuktikan bahwa dirinya adalah figur yang adaptif dan berjiwa bugar.
Kini, seluruh modal sosial, jaringan, dan pengalaman belasan tahun itu siap ia tumpahkan demi satu tujuan yakni kemajuan Watulaney Amian.
“Tujuan saya untuk membangun desa. Saya ingin menjadikan kampung saya, tempat kelahiran saya, menjadi desa yang maju, adil, sejahtera, dan berprestasi,” pungkasnya optimis. (***)






