Trendingmanado.com— In this economy, sektor pariwisata Sulut bertumbuh positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut mancatat, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulawesi Utara pada September 2026 mencapai 10.184 kunjungan.
Jika dibandingkan bulan sebelumnya terjadi penurunan, namun secara tahunan, mengalami peningkatan. Wisman didominasi oleh wisatawan asal Korea Selatan sebanyak 5.047 kunjungan atau sekitar 49,56 persen dari total kunjungan.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nasional (wisnas) mencapai 781 perjalanan. Jumlah ini meningkat secara tahunan, namun menurun secara bulanan. Perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan Sulawesi Utara mencapai 1,24 juta perjalanan. Dari sisi akomodasi, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang meningkat menjadi 49,82 persen, lebih tinggi dibandingkan September 2025.
Kepala Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Sulut, dr Kartika Devi Tanos MARS, kepada wartawan menjelaskan, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulut mengalami peningkatan signifikan sebesar 108% secara tahunan (year-on-year) berdasarkan data terbaru dari BPS Sulut.
“Namun, kondisi sebaliknya terjadi pada sektor wisatawan nusantara (wisnu) yang justru mencatatkan penurunan tipis sekitar 0,16%,” katanya.
Dijelaskannya, faktor utama yang mendorong lonjakan angka kunjungan turis asing ini adalah peningkatan frekuensi penerbangan langsung (direct flight) luar negeri, salah satunya dari Korea Selatan. “Jika sebelumnya rute ini hanya tersedia 3 hingga 4 kali seminggu, kini penerbangan tersebut telah beroperasi setiap hari menuju Sulut,” ungkapnya.
Selain itu, pergerakan ini juga didukung oleh sejumlah penerbangan sewa (charter flight) seperti dari maskapai Garuda Indonesia dengan tujuan Guangzhou, serta operasional aktif dari maskapai lain seperti TransNusa untuk rute internasional.
Sementara, lesunya kunjungan wisatawan domestik sangat dipengaruhi oleh tingginya harga tiket penerbangan lokal. Biaya tiket pesawat domestik saat ini dilaporkan bisa mencapai Rp6 juta untuk perjalanan pulang-pergi (PP), sebuah angka yang dinilai sangat berdampak negatif terhadap minat berwisata masyarakat lokal.
“Kondisi ini diperparah dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran di berbagai kementerian. Pengurangan anggaran tersebut berdampak langsung pada penurunan aktivitas Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) kedinasan yang biasanya menjadi salah satu motor penggerak utama bagi kunjungan wisatawan domestik ke daerah,” tuturnya.
Dalam pemaparannya terkait capaian kinerja dan program strategis sektor pariwisata di hadapan pimpinan serta anggota Komisi IV DPRD Provinsi Sulut, Senin (3/11/2026), dr Devi, menegaskan komitmen dinas untuk menanggapi seluruh masukan dari dewan, terutama terkait program yang langsung menyentuh masyarakat, kebersihan destinasi, hingga optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ia mengungkapkan, target PAD sektor pariwisata untuk tahun 2027 dipertahankan sama dengan tahun 2026, yakni sebesar Rp1.186.305.000. Capaian ini dinilai sangat positif, mengingat per 1 November 2026, realisasi PAD pariwisata telah mencapai 104,23% atau melampaui target yang ditetapkan untuk tahun berjalan.
Terkait pengembangan desa wisata, Dr. Kartika mencatat saat ini terdapat 201 desa wisata yang tersebar di 15 kabupaten/kota di Sulawesi Utara. Meskipun tidak ada desa wisata yang merupakan binaan langsung Pemerintah Provinsi, Dinas Pariwisata Provinsi secara aktif berkoordinasi dengan dinas pariwisata di masing-masing daerah.
Ia juga menegaskan, dari seluruh destinasi wisata, hanya lima destinasi yang berada di bawah pengelolaan langsung Pemprov Sulut, yakni tiga di Kabupaten Minahasa, satu di Kota Manado, dan satu di Kabupaten Minahasa Utara. Untuk objek wisata yang terbengkalai, pihaknya akan memfasilitasi penanganan jika berada di domain provinsi, dan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota jika berada di wilayah domain kabupaten/kota.(***)






