Trendingmanado.com– Kepala Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik (DKIPS) Daerah Provinsi Sulawesi, Steven Evans Liow, membantah tudingan mantan Anggota DPRD Sulut James Tuuk terhadapnya.
“Apa yang dikatakan James Tuuk adalah pembohongan besar. Sejak awal, James tidak pernah berjuang untuk kesejahteraan wartawan,” kata Liow.
Ia kemudian mengatakan, tudingan bahwa Kominfo telah membayar influencer yang tidak terbukti. “Salah satu contoh ketika James Tuuk lapor bahwa kami bayar jasa influencer melalui dana Kominfo. Ternyata tidak terbukti. Mengapa? Karena James Tuuk gagal paham dengan mata anggaran Diskominfo. Ditulis bayar konten, namun justru dari mata anggaran Kominfo membayar kerjasama media,” ungkapnya.
Dalam unggahannya di grup WhatsApp ‘Haga Sulut’, Liow mengatakan bahwa yang harus diketahui adalah prosedur dalam tata kelola keuangan. Deteksi korupsi itu kelihatan pada saat perencanaan. Bahkan Tuuk, dikatakannya, adalah salah satu yang menyetujui, karena anggaran Kominfo ini dibahas dan disetujui oleh DPRD. Selanjutnya ditetapkan lewat Perda. “Kedua, Diskominfo diperiksa oleh Inspektorat selama 3 kali setahun dan diperiksa BPK-RI. Jadi hormati auditor. Kita juga dikawal oleh APIP, dan tata kelola jelas sampai hari ini. Tidak ada prosedur yang dilanggar karena sesuai regulasi. Apabila ada pelanggaran, kami pasti akan mendapat catatan dari Inspektorat dan BPK. Dan Bung James Tuuk perlu ketahui, tahun 2023, Kominfo tanpa catatan. Nanti pemeriksaan tahun 2024 ada catatan, buat payung hukum agar tata kelola media dapat dikualifikasikan termasuk teregistrasi di Dewan Pers baik administratif dan faktual. Maka kami harus patuh, dalam waktu 60 hari harus tuntas Pergub ini. Jadi Anda jangan asal bunyi. Silahkan Polda periksa, kita, Kominfo siap. Dokumen semua telah diserahkan tapi jangan pakai cara arogansi Anda menekan kami segala lini,” ungkap Liow.
Menurutnya, 117 pegawai Kominfo tahu dengan figur James Tuuk. Dan akibat tudingan ke Kominfo, bendahara sampai jatuh sakit, sulit ke kantor karena tekanan. “Begitu juga dengan lain, staf kami jadi kendor karena masalah ini. Dan bahkan resiko pekerjaan ini seolah-olah tidak ada pendampingan. Ini tragis bagi kami. Coba lihat pemimpin kami dapat segudang prestasi yang harus diekpose, termasuk 11 tahun WTP Dan di dua tahun terakhir ini, dengan jasa media yang baik torang di Sulut tetap rukun dan damai. Pemilu dan Pilkada sukses artinya banyak yang terkait termasuk Forkopimda dan DPRD Sulut, tapi SKPD dan seluruh pejabat di Pemprov ikut serta sukses kawal roda pemerintahan. Pembangunan dan sosial kemasyarakatan dengan baik,” ungkap Liow.
Dan sampai hari ini, lanjut Liow, kondisi sosial masyarakat Sulut tetap terjaga, rukun dan damai, termasuk dalam alih pemerintahan. “Sama halnya dengan Bapak Adolf Sondakh dan Freddy Sualang, beralih ke kepemimpinan SH Sarundajang dan Djauhari Kansil, semua baik-baik saja karena para tokoh di sini memberi teladan. Saya, zaman pak Mangindaan alih pemerintahan melalui proses politik berjalan dengan baik. Karena torang samua basudara, torang hidup memanusiakan manusia. Dan torang diajarkan balas kejahatan dengan kebaikan,” ujarnya
Ia pun mengimbau Tuuk untuk menghentikan arogansinya. “Bawa Sulut ini cinta damai, jangan gaya politik Tarkam. Dan ingat, Sulut itu rukun dan damai, barometer toleransi, tingkat kepercayaan masyarakat ke pemerintah tinggi. Siapapun dia, dari level bawah sampai di atas, saya tahu karena saya mantan camat. Jadi hentikan gaya seperti ini. Kami tidak pernah takut dengan ancaman Anda, apalagi dalam pemeriksaan secara terinci dari 103 media tidak ada kerugian negara dan transfer langsung di rekening perusahaan, tidak pernah ke rekening pribadi. Dan kami tidak pernah membayar jasa media sosial. Semoga Tuhan memberkati,” tutupnya.(*)






