Hadirnya Para Dubes Buktikan Kuatnya Sinergi Internasional Dukung Agenda Keberlanjutan Global di Sulut

Trendingmanado.com— Bagi Provinsi Sulawesi Utara, laut bukanlah sekadar pemandangan alam yang memanjakan mata. Dengan lanskap geografis di mana sekitar 73 persen wilayahnya merupakan perairan, laut adalah ruang hidup.

Fakta ini diungkap Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE saat Makan Malam Bersama Dwlwgasi Uni Eropa, di Wisma Negara Bumi Beringin, Manado, Jumat malam (17/7/26).

Pemprov Sulut menerima kunjungan kehormatan dari delegasi tingkat tinggi Uni Eropa, perwakilan pemerintah pusat, serta sejumlah mitra pembangunan internasional. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat penuh kebersamaan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi internasional dalam mendukung agenda keberlanjutan global, khususnya di sektor kelautan dan perikanan.

Dikatakan Gubernur, bagi 2,77 juta jiwa penduduk Bumi Nyiur Melambai, lautan luas ini merupakan urat nadi kehidupan sekaligus masa depan yang menentukan arah gerak daerah.

Kesadaran akan besarnya potensi bahari ini pula yang membuat visi pembangunan Sulawesi Utara berjalan selaras dengan kebijakan Ekonomi Biru nasional.

Namun, dikatakan Gubernur, menjaga bentangan laut yang begitu luas dengan segala kekayaan di dalamnya bukanlah perkara mudah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyadari sepenuhnya, mereka tidak bisa berjalan sendiri dalam memikul tanggung jawab besar ini.

Untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan ancaman kelestarian ekosistem, kolaborasi dan sinergi internasional menjadi kunci yang tidak bisa ditawar.

 

Hasil Kolaborasi Lintas Negara

Langkah nyata dari pentingnya sinergi ini tercermin dalam kemitraan erat yang terjalin sejak tahun 2020. Lewat kolaborasi strategis antara Kementerian Kehutanan RI, Pemerintah Daerah, dan Wildlife Conservation Society (WCS), yang didukung penuh oleh pendanaan dari Uni Eropa serta KfW Development Bank, dampak positif mulai dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.

Kerja sama internasional ini tidak hanya di atas kertas, melainkan mewujud pada pemberdayaan di akar rumput. Hingga kini, program tersebut telah berhasil merangkul 29 desa dan melatih 37 kelompok masyarakat pesisir. Mereka dibekali kemampuan untuk mengembangkan mata pencaharian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Salah satu cerita sukses yang lahir dari kolaborasi ini adalah mencuatnya nama Desa Budo. Melalui penguatan sektor ekowisata lokal yang terukur, Desa Budo berhasil menyabet penghargaan sebagai salah satu desa wisata terbaik di tingkat nasional.

Kian mengukuhkan posisinya di kancah dunia, Kota Manado kini juga dipercaya menjadi rumah bagi Sekretariat Regional Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF), menjadikannya sebagai pusat kolaborasi perlindungan terumbu karang di kawasan regional.

 

Langkah Nyata Sulut Menjaga Lestarinya Bentangan Laut

Gubernur kemudian mengungkap langkah konkret yang telah ditempuh Sulawesi Utara dalam menjaga bentang lautnya tetap Lestari.

Dalam komitmen menjaga keanekaragaman hayati laut, Pemprov Sulut telah menetapkan Kawasan Konservasi Perairan dengan total luas mencapai 239.373,79 hektar. Area ini diproteksi secara khusus demi menjamin keberlangsungan hidup terumbu karang dan biota laut dari kerusakan.

Hebatnya, proteksi ketat ini tidak mematikan roda ekonomi warga. Komitmen konservasi di Sulut justru berjalan beriringan dengan pemanfaatan laut yang bertanggung jawab. Hal ini dibuktikan oleh para nelayan lokal yang mayoritas masih setia menggunakan alat tangkap tradisional yang ramah lingkungan, atau yang dikenal dengan metode HUTATE (hand line, pole and line, serta long line).

Lewat metode tradisional ini, ekologi laut tetap terjaga seimbang karena tidak merusak habitat, sekaligus mampu menghasilkan kualitas tangkapan kelas satu seperti ikan tuna, cakalang, dan skipjack.

Pilihan untuk tetap bersahabat dengan alam ini terbukti berbuah manis secara ekonomi. Sektor perikanan berkelanjutan Sulut sukses menyumbang angka ekspor yang fantastis hingga mencapai 140 juta USD. Kesejahteraan para nelayan pun ikut terkerek naik, ditunjukkan dengan raihan Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang sangat baik di angka 112 pada tahun 2025, di tengah pertumbuhan ekonomi daerah yang bergerak positif di angka 5,66 persen.

Melalui perpaduan antara kearifan lokal nelayan dan sokongan kemitraan global, Sulawesi Utara sedang mengirimkan pesan kuat ke dunia: bahwa menjaga laut adalah investasi terbaik untuk masa depan generasi yang akan datang.

 

Pertemuan Berkelas Internasional Dihadiri Para Dubes

Hadir langsung dalam pertemuan tersebut Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, H.E. Denis Chaibi, bersama para Duta Besar dari negara-negara anggota Uni Eropa, termasuk Belgia, Denmark, Lithuania, Republik Ceko, Irlandia, dan Austria, serta perwakilan diplomatik dari Finlandia dan Portugal.

Turut hadir pula pimpinan KfW Development Bank, perwakilan Kementerian PPN/BAPPENAS, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kehutanan, pimpinan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program, jajaran Forkopimda, serta pejabat di lingkup Pemprov Sulut.(***/dkips)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *