Sulut Jadi Lokasi Percontohan Proyek Pasar Satwa Liar

Trendingmanado.com— Pemprov Sulut menegaskan komitmen dalam penguatan biosekuriti, komunikasi risiko, Selain itu, juga terkait keterlibatan masyarakat untuk menekan risiko zoonosis serta penyakit infeksi baru di sepanjang rantai pasar satwa liar.

Ini terungkap dalam Pertemuan Koordinasi Implementasi Biosekuriti, Komunikasi Risiko, dan Keterlibatan Masyarakat di Rantai Pasar Satwa Liar di Sulut.

Dalam kegiatan yang digelar di Hotel Luwansa Manado, Selasa (12/5/2026), Gubernur Sulut Yulius Selvanus diwakili Asisten II Setdaprov Jemmy Ringkuangan.

Dalam sambutannya, Gubernur menegaskan, isu zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (EID) merupakan persoalan serius sehingga kegiatan ini sangat penting.

“Karena kita sedang berbicara mengenai isu besar yang menyangkut kesehatan masyarakat, kelestarian lingkungan, ketahanan pangan, serta keberlanjutan ekosistem,” ujarnya.

Ia menjelaskan, meningkatnya mobilitas dan konektivitas global turut memperbesar risiko munculnya penyakit infeksi baru yang sebagian besar bersumber dari satwa liar.

Roadmap Program Pengurangan Risiko Zoonosis dan EID di rantai pasar satwa liar Sulut menyebutkan, 60% penyakit infeksi baru bersifat zoonosis. “Dan lebih dari 70% berasal dari satwa liar,” sambungnya.

Interaksi Manusia dengan Satwa Liar Harus Dikelola dengan Baik

Pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting, interaksi manusia dengan satwa liar yang tidak dikelola dengan baik dapat memunculkan ancaman kesehatan serius. “Dan berdampak luas terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Karena itu, upaya penguatan biosekuriti, komunikasi risiko, dan keterlibatan masyarakat bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan yang harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan,” katanya.

Diakui, rantai pasar satwa liar merupakan isu sensitif dan kompleks di Sulut. Berdasarkan hasil kajian, Sulut tercatat sebagai daerah dengan tingkat konsumsi daging satwa liar tertinggi di Indonesia.

Namun demikian, ia menegaskan, kondisi tersebut bukan untuk menyalahkan budaya masyarakat, melainkan menjadi dasar membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya perlindungan kesehatan masyarakat dan konservasi lingkungan.

Dalam forum itu turut dipaparkan Draft Roadmap Program Pengurangan Risiko Zoonosis dan EID di sepanjang rantai pasar satwa liar di Provinsi Sulut melalui Proyek Pasar Satwa Liar atau Wildlife Wet Market (WWM).

Kegiatan tersebut dihadiri Tim Direktorat KSG Kementerian Kehutanan, Tim BKSDA Sulut, Kasubdit Konservasi Spesies Genetik Budi Mulyanto, serta Kasubag TU KSDA Sulut Aden Mahyar.

Dalam pemaparan disebutkan, Provinsi Sulut dipilih sebagai lokasi percontohan Proyek WWM karena memiliki tingkat konsumsi daging satwa liar tertinggi di Indonesia.

Proyek ini merupakan kerja sama antara FAO Emergency Center for Transboundary Animal Disease (ECTAD) Indonesia bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta didukung Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) sejak Maret 2022.

 

Perdagangan Satwa Liar Masih Cukup Tinggi

Survei yang dilakukan pada 26 November hingga 20 Desember 2022 di 36 pasar di Sulut menunjukkan, perdagangan satwa liar masih cukup tinggi, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru.

Data survei mencatat, pada musim perdagangan tinggi terdapat sekitar 14 ton babi hutan, 4,5 ton kelelawar, 1 ton ular, dan 1 ton tikus diperdagangkan setiap minggu di rantai pasar satwa liar Sulut.

Jika dihitung secara tahunan, jumlah itu diperkirakan mencapai 268,8 ton babi hutan, 86,4 ton kelelawar, serta masing-masing 19,2 ton ular dan tikus.

Selain itu, konsumsi satwa liar disebut meningkat signifikan pada momentum perayaan Natal dan Pengucapan, bahkan bisa mencapai lima kali lipat dibanding hari biasa.

Pemprov Sulut menyatakan mendukung penuh implementasi Proyek WWM II sebagai bagian dari penguatan pendekatan ‘One Health’ yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *