Trendingmanado.com— Di tengah kesulitan hidup yang dialami anak-anak bangsa, tak salah jika kita melihat kisah putra kelahiran Gorontalo yang berdomisili di Minahasa Utara. Ya, dia adalah Ibrahim Hiola, yang berhasil melalui masa sulit yang dialaminya bersama keluarga.
Simak kisah yang diunggah Ibra, sapaan akrab Advokat dan Konsultan Hukum, yang dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tidak mudah menyerah.
“Saya lahir dari rahim seorang ibu yang tak pernah mengenal kata menyerah, dan dibesarkan oleh ayah yang tangannya penuh luka karena cangkul dan batu. Kami bukan siapa-siapa. Rumah kami berdinding papan, lantainya tanah, dan atapnya bocor saat hujan turun. Tapi di dalam rumah itu, ada cinta yang tak terbatas, dan doa yang tak pernah putus.
Sejak kecil, saya tahu bahwa hidup kami berat. Saya tahu arti lapar, saya tahu rasanya malu karena seragam sekolah robek, dan saya tahu betapa sakitnya melihat ibu menahan tangis saat tak bisa membelikan saya buku. Tapi saya juga tahu satu hal: saya harus sekolah. Saya harus belajar. Karena itu satu-satunya jalan yang bisa membawa saya keluar dari lingkaran kemiskinan ini.
Saya berjalan kaki berjam-jam ke sekolah, belajar dengan buku pinjaman, dan menulis di balik kertas bekas. Saya pernah menangis karena tak bisa ikut ujian bukan karena tak belajar, tapi karena tak punya uang bayar SPP. Tapi saya tidak berhenti. Saya tidak boleh berhenti. Karena saya tahu, jika saya menyerah, maka mimpi saya akan mati. Dan saya tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Saya berhasil menyelesaikan S1, lalu S2 dengan kerja keras dan air mata.”

Ibrahim Hiola kini berhasil menyandang gelar Sarjana Hukum (SH) dan Magister Hukum (MH). Dengan karir sebagai advokat dan konsultan hukum, Ibra terus berusaha menggapai mimpinya.
Pria kelahiran Gorontalo 14 Desember 1983 ini berasal dan berdomisili di Desa Klabat Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara. Memiliki hobi olahraga dan bercita-cita ingin mengejar ilmu sehingga langit Pekerjaan orang tua sebagai buruh tani dan ibu sebagai ibu rumah tangga tak menyurutkan cita-citanya.
Setelah lulus dari SD Inpres Klabat pada tahun 1996, Ibrahim melanjutkan sekolah di SMPN 2 Talawaan Bitung, kemudian menempuh studi di STM jurusan otomotif dan lulus pada tahun 2002.
Anak tertua dari lima bersaudara ini sempat memendam cita-cita selama empat tahun. Masuk tahun ke-5, niat itu mulai bangkit, dan tahun 2006, Ibra, masuk Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, dan berhasil menyelesaikan studinya pada 19 Agustus 2010.
Namun cita-cita itu kembali harus dipendam, bahkan nyaris padam. Karena keadaan ekonomi Ibra tak bisa melanjutkan jalannya menggapai cita-cita. Dan setelah melalui masa sulit, pada 19 September 2023, cita-cita yang sempat mati, hidup kembali. Dan pada 17 November 2023, Ibra resmi masuk Institut Agama Islam Negeri Manado (IAIN), jurusan Hukum Keluarga.
Tepat pada 26 Agustus 2025, Ibra lulus dengan waktu 1 tahun 11 bulan, dan meraih gelar Magister Hukum. “Seharusnya mendapat predikat CumLaude, tapi karena waktu ada kesalahan kalender akademik sampai batal pakai CumLaude. Padahal dari 14 mata kuliah, semua nilai A,” tuturnya.
“Sekarang, saya berdiri di ambang mimpi terbesar saya: saya ingin dan punya mimpi sekolah S3. Bukan untuk gelar, bukan untuk status. Tapi untuk membuktikan bahwa anak dari keluarga miskin pun bisa bermimpi setinggi langit dan mencapainya.
Saya ingin S3 agar saya bisa menulis sejarah baru sejarah tentang anak desa yang tak punya apa-apa, tapi punya semangat yang tak bisa dibeli. Saya ingin berdiri di depan kelas, mengajar, dan berkata kepada murid saya: “Kalau saya bisa, kalian juga bisa.”
Saya tahu jalan ini akan penuh luka. Saya tahu saya akan jatuh, mungkin berkali-kali. Tapi saya juga tahu, saya punya alasan yang lebih kuat dari rasa lelah: saya punya ibu yang selalu mendoakan saya di sepertiga malam, dan ayah yang diam-diam bangga meski tak pernah berkata apa-apa. Saya bukan siapa-siapa. Tapi saya punya mimpi. Dan mimpi itu, tak akan saya biarkan mati.”
Semoga kisah ini menginspirasi anak-anak bangsa dalam menghadapi berbagai persoalan dan dinamika kehidupan.(*)






